Menteri LH Blusukan ke Balikpapan: Apakah Kota Ini Terancam Gagal Adipura 2026?

Bayangkan seorang menteri turun langsung ke gang sempit, naik motor, dan ngobrol santai dengan warga tanpa dikawal pejabat daerah. Itulah yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat berkunjung ke Balikpapan pada 6 Februari 2026 lalu. Kunjungan mendadak ini langsung bikin heboh, apalagi tujuannya untuk verifikasi akhir penghargaan Adipura 2026.

Balikpapan, kota minyak yang selama ini sering bangga dengan predikat kota bersih, kini jadi sorotan. Menteri Hanif menemukan banyak masalah sampah di permukiman dan sungai, meski jalan protokol tampak rapi. Apakah ini pertanda Balikpapan terancam gagal Adipura tahun ini? Kita bahas yuk, dari awal sampai akhir, biar kamu paham betapa seriusnya isu ini.

Apa Itu Adipura dan Kenapa Penting Banget?

Adipura adalah penghargaan paling bergengsi buat kota-kota di Indonesia yang berhasil jaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, penghargaan ini bukan cuma piala doang, tapi pengakuan bahwa kota tersebut benar-benar nyaman ditinggali.

Ada tingkatannya lho: dari Plakat, Sertifikat, sampai Adipura Kencana untuk yang paling top. Penilaiannya ketat, meliputi pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, sungai bersih, sampai perilaku masyarakat. Kalau dapat Adipura, kota itu biasanya lebih bangga, investasi masuk lebih mudah, dan warganya juga lebih semangat jaga lingkungan.

Di tengah kondisi darurat sampah nasional yang lagi digencarkan Presiden Prabowo lewat Gerakan Indonesia Asri, Adipura jadi alat ukur utama. Kalau kota besar seperti Balikpapan saja masih bermasalah, gimana dengan yang lain?

Balikpapan, Sang Juara yang Pernah Berjaya

Balikpapan bukan pendatang baru di dunia Adipura. Kota ini sudah berkali-kali bawa pulang piala, bahkan Adipura Kencana untuk kategori kota besar. Tahun 2024 saja, Balikpapan berhasil pertahankan Kencana, jadi salah satu kota terbersih di Indonesia.

Warga Balikpapan pasti bangga dong. Jalan-jalan raya bersih, taman-taman tertata, dan program pengelolaan sampah cukup maju. Tapi, seperti kata pepatah, mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Tahun ini, Balikpapan masuk kandidat lagi bersama Surabaya, Bontang, dan Ciamis. Skor awalnya di atas 75, cukup tinggi. Tapi, verifikasi lapangan jadi penentu akhir.

Kunjungan Mendadak Menteri Hanif: Blusukan Tanpa Kawalan

Menteri Hanif memang beda. Dia sengaja ogah dikawal Pemkot Balikpapan biar bisa lihat kondisi asli. “Saya mau dengar langsung dari masyarakat,” katanya. Datang sore hari, langsung gas ke lapangan naik motor.

Lokasi yang dikunjungi? Banyak banget:

  • Kampung Phinisi Klandasan
  • Kampung Bungas
  • Pasar Baru
  • Pasar Pandansari
  • Muara Rapak
  • Sampai ke permukiman padat dan tepi sungai

Dia ngobrol sama warga, tanya proses buang sampah, dan lihat langsung tempat pembuangan. Di Kampung Bungas, misalnya, ada program kompos yang cukup bagus. Tapi di tempat lain? Hmm, banyak yang masih jauh dari harapan.

Temuan di Lapangan: Sampah di Permukiman dan Sungai Jadi Momok

Ini bagian yang bikin deg-degan. Jalan protokol sih oke, bersih dan rapi. Tapi begitu masuk gang dan permukiman, ceritanya beda.

Menteri Hanif bilang sungai-sungai di Balikpapan “tidak terlalu friendly” alias penuh sampah. Pemilahan sampah hampir nggak ada, dan sampah lingkungan masih belum terkelola baik. Hanya segelintir tempat seperti Kampung Bungas yang lumayan.

“Apakah Balikpapan masih bisa mendapat Adipura atau turun jadi kota bersertifikat?” Itu pertanyaan yang dia lempar sendiri. Temuan ini bisa mengoreksi skor sebelumnya dari tim penilai. Kalau main road saja yang kinclong, tapi belakangnya berantakan, ya susah kan dapat nilai tinggi.

Kenapa Sampah Masih Jadi Masalah di Kota Sebesar Balikpapan?

Kota besar seperti Balikpapan punya tantangan sendiri. Penduduk padat, aktivitas tinggi, dan perilaku masyarakat yang kadang masih cuek. Kepala Dinas LH Balikpapan sendiri pernah akui, perilaku warga jadi tantangan terbesar meski targetnya Adipura Kencana.

Bayangin, setiap hari produksi sampah ratusan ton. Kalau nggak dipilah dari rumah, ya numpuk di TPS atau malah dibuang ke sungai. Padahal, program bank sampah dan kompos sudah ada. Tinggal konsistensi aja.

Ini mirip masalah di banyak kota Indonesia. Darurat sampah nasional bukan isapan jempol. Kalau nggak ditangani serius, bukan cuma Adipura yang hilang, tapi kesehatan warga dan lingkungan juga terancam.

Apa Implikasi Kalau Balikpapan Gagal Adipura 2026?

Gagal Adipura bukan akhir dunia, tapi pasti bikin malu. Dari kandidat kuat, bisa turun jadi kota bersertifikat atau bahkan masuk kategori kota kotor bareng ratusan daerah lain.

Dampaknya? Citra kota turun, investasi bisa ragu, dan yang paling penting, jadi wake-up call buat semua pihak. Pemerintah daerah harus lebih tegas, warga lebih disiplin. Kalau berhasil diperbaiki, malah bisa jadi cerita comeback yang inspiratif.

Menteri Hanif sendiri bilang, hanya 4 kota yang berpotensi dapat Adipura penuh, sisanya sertifikat atau kotor. Balikpapan masih punya peluang, tapi harus buru-buru benahi kekurangan.

Langkah Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?

Nggak perlu nunggu pemerintah doang. Kita sebagai warga bisa mulai dari hal kecil. Ini beberapa tips praktis:

  • Pilah sampah dari rumah — Organik, anorganik, dan B3 dipisah biar mudah diolah.
  • Kurangi plastik sekali pakai — Bawa tas belanja sendiri, tolak sedotan plastik.
  • Ikut program bank sampah — Banyak komunitas di Balikpapan yang nerima sampah daur ulang.
  • Jangan buang sampah ke sungai — Ini fatal banget buat ekosistem.
  • Lapor kalau lihat pelanggar — Pakai aplikasi pengaduan DLH Balikpapan.

Kalau semua ikut, bukan cuma Adipura yang balik, tapi kota kita benar-benar nyaman buat anak cucu nanti.

Kesimpulan: Masih Ada Harapan Buat Balikpapan

Kunjungan blusukan Menteri Hanif memang bikin Balikpapan terancam gagal Adipura 2026, terutama karena masalah sampah di permukiman dan sungai. Tapi ini juga jadi momentum bagus buat introspeksi. Balikpapan punya sejarah juara, infrastruktur bagus, dan warga yang peduli. Tinggal satukan langkah a untuk benahi kekurangan.

Semoga saja verifikasi akhir membawa kabar baik. Yuk, mulai dari sekarang, jaga kebersihan bareng-bareng. Siapa tahu tahun ini Balikpapan balik lagi bawa piala Adipura!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *